Total Tayangan Halaman

Selasa, 18 Juni 2013

VISI DAN MISI CREDIT UNION



Sudahkah Visi Dan Misi Kopdit
Menjadi Inspirasi Arah, Tujuan, Tindakan Kopdit Anda?

Setiap kali anda menumpang taxi sudah tentu anda akan ditanya oleh sang Driver “kemana pak?” kontan pasti anda menyebutkan tujuan anda tanpa ragu “Bandara mas!!”, atau justeru jangan-jangan anda akan menjawab “hey..lo jangan banyak tanya, jalan aja. Bukan urusan lo”. Saya hampir dapat memastikan anda akan disuruh turun oleh Driver nya, meskipun sesungguhnya sang Driver lagi kejar setoran.
Driver saya analogikan sebagai ANGGOTA Kopdit anda dan Penumpang saya analogikan sebagai PENGELOLA Kopdit (maaf saya menggunakan analogi terbalik, yang umumnya para pakar, aktivis senior saya di CU/Kopdit menganalogikan Driver nya adalah Pengelola Kopdit dan Anggota adalah penumpangnya) Dari analogi di atas, apa yang terlintas dalam mindset saya? Pikirkan saja ketika anggota Kopdit (meskipun pengelola sudah pasti anggota juga) bertanya kepada pengelola Kopdit “pak/bu, Kopdit kita akan menuju kemana?, lalu sebagai pengelola anda menjawab “itu bukan urusan anggota, ini urusan kami sebagai pengelola, urusan Anda menabung secara teratur, meminjam dengan bijak dan bertanggungjawab mengangsur tepat waktu!!!” lalu esok nya sudah pasti anggota tersebut akan mengundurkan diri/keluar dan menarik simpanannya dari Kopdit anda, karena Kopdit anda tidak memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan Kopdit, tidak jelas bagaimana mengembangkan asset yang bersumber dari anggota dan tidak jelas pula apa manfaat yang akan anggota terima.
Adakah hal ini terjadi pada beberapa Kopdit di GKKI? Sungguh ini akan menjadi saat buruk bagi pengelolanya jika saja hal ini terjadi. Lalu bagaimana pengelola Kopdit mementahkan anggapan ini? Ketika berbicara soal Arah, Strategi dan Tujuan Kopdit, maka tidak akan lepas dari penetapan, penajaman Visi dan Misi Kopdit itu sendiri. Apakah Visi dan Misi yang indah kata-katanya, panjang redaksinya akan menggambarkan keindahan Tujuan, Impian dan Cita-cita Kopdit ke depan? Tentu tidak demikian, lalu seperti apakah merumuskan Visi dan Misi yang baik, tepat dan benar?  Merumuskan visi dan misi Kopdit memang tidaklah mudah namun bukan berarti sulit bukan?.
Visi
Dalam Modul ACCESS yang dikembangkan oleh ACCU sebagai disebutkan bahwa Visi tidak hanya Gambaran Kopdit di masa depan, namun jauh lebih dari itu, pernyataan visi adalah Inspirasi Kopdit dan kerangka kerja bagi Rencana Strategis Kopdit, Visi tertulis dan secara konsisten dipahami, diterapkan dalam tindakan mengelola Kopdit, Kriteria Visi :
¨    Jelas, meyakinkan dan inspiratif
¨    Menetapkan arah bisnis Kopdit
¨    Mampu merespon perubahan pasar terkini
¨    Mencerminkan nilai-nilai dan identitas Kopdit
¨    Akan menjadi apa Kopdit menjadi jelas tergambar.
Visi adalah sesuatu yang ingin anda capai dan sesuatu yang anda lihat, nyatakanlah Visi sependek mungkin namun luas dan mengena. Sudahkah Kopdit anda memiliki Visi sesuai kriteria di atas? Apakah Visi Kopdit anda (Pengurus dan Manajemen), sangat dipahami dan diterapkan dalam mengelola Kopdit secara konsisten serta menjadi komitmen bersama untuk mencapai visi tersebut? Mudah-mudahan dengan membaca tulisan ini, anda segera mengadakan Rapat/lokakarya tentang Pemahaman, penajaman serta komitmen atas Visi dan Misi Kopdit anda.
Misi
Misi merupakan pernyataan tegas tentang keberadaan sebuah entitas (Kopdit) dan bisnis inti nya, fokus pada kegiatan bisnis saat ini, siapa kita, apa yang kita lakukan, siapa pelanggan kita dan bagaimana Kopdit melaksanakan pelayanan dengan para pelanggan (baca; anggota). apa Core Business (bisnis inti) Kopdit? Ya bisnis inti Kopdit adalah Financial Service. Dalam beberapa referensi yang saya baca, bahwa pernyataan misi haruslah merujuk dan diuraikan dari visi, seringkali di Kopdit ditemui, misi dibuat dengan redaksi yang amat panjang (sehingga jangankan untuk mudah dipahami, untuk menghafalnya saja susah) dan diuraikan dalam bentuk nomor (1,2,3,4) atau abjad (a,b,c,d), sebaiknya pernyataan misi maksimal berisi 25 kata dan dimulai dengan kata kerja (Management Cockpit Di Credit Union-Kumpulan Artikel Dari Jurnal Pelatihan CUDCC-Munaldus).

Inovasi Values



Inovasi Values

Saya percaya pada beberapa orang praktisi bisnis yang notabene mereka adalah pebisnis-pebisnis sukses yang mengatakan “Bisnis bukan hanya sekedar untuk bisnis, bisnis mestinya bermanfaat dan memberikan kontribusi bagi banyak orang”, bisnis yang mengejar profit semata tidak akan bermanfaat abadi, meskipun sesungguhnya profit menjadi penting bagi keberlangsungan perusahaan.
Apabila dicermati, maka sesungguhnya bisnis bukan sekedar menghasilkan nilai nominal rupiah, melainkan ada NILAI yang utuh (values) melebihi dari sekedar nilai nominal. Ya saya sependapat dengan anda soal values (tata nilai). Values sendiri dapat dibedakan kedalam means (tata cara, proses) atau ends (ujuan, akhir, goals). Values adalah nilai standar yang dipakai untuk membedakan antara cara terbaik/lebih baik dengan sesuatu yang kurang baik atau buruk (Zigami, O’ Connor, Blanchard & Edenburn, 2005).
Cukup banyak definisi Values yang semuanya tentu saja soal tata nilai Values adalah kumpulan jati diri, niat, dan pedoman terbaik yang bisa dipikirkan oleh masing-masing orang. Percaya atau tidak, beberapa perusahaan raksasa di  dunia yang eksis berpuluh-puluh tahun lamanya tentu saja melewati fase turbulensi baik tensi internalnya maupun tensi politik. Lalu apa yang membuat mereka tetap bertahan bahkan berkembang? Tentu saja mereka tidak mengabsenkan values, mentransformasi values. Senantiasa melakukan Inovasi values yang pada akhirnya membentuk Corporate Culture yang unggul.

Inovasi Values, pentingkah?

Implementasi values dalam bentuk perilaku adalah harapan semua organisasi yang berharap mencapai performa tinggi. Tapi dalam kenyataannya, banyak organisasi yang belum memiliki nilai-nilai. Tidak adanya nilai-nilai yang disepakati bersama menjadikan pemangku kepentingan tidak memiliki panduan dalam berperilaku, tidak tahu mana yang boleh dan tidak boleh dikerjakan dalam menjalankan organisasi.
Ada juga organisasi yang sudah memiliki nilai-nilai tapi inkonsistensi dalam penerapannya, ada elemen organisasi yang belum menerima dan belum merasa memiliki. Salah satu sebabnya adalah karena organisasi meminta konsultan membuatkan nilai-nilai tanpa melibatkan elemen tersebut. Kondisi ini diperburuk lagi dengan tidak adanya proses identifikasi, sosialisasi, implementasi, dan reinforcement dari shared values tersebut. Nilai-nilai hanya digunakan sebagai hiasan di buku saku dan dinding kantor tapi tidak menjadi landasan dalam berfikir dan berperilaku karena tidak terinternalisasi secara kontinuitas..

Rabu, 12 Juni 2013

SEPUCUK SURAT BUAT PARA CALEG PEMILU 2014



Yth. Para Bacaleg 2014
Salam Penuh Harapan, Salam Perjuangan
Dengan Hormat dan Syukur.
Pemilu legislatif tidak lama lagi, anda-anda tentu saja tengah harap-harap cemas menunggu DCT (Daftar Caleg Tetap), kalau masyarakat kurang mampu lagi menunggu-nunggu BLSM (Bantuan Langsung Sementara) untungnya bukan BALSEM (mengilangkan rasa ngilu/pengobat sementara), meski BLSM di sinyalir juga ada kaitannya dgn Pemilu 2014 (menurut para pengamat politik).
Tentu saja anda-anda para bacaleg sudah ber-kalkulasi dengan sangat amat matang soal kans anda untuk mendapat dukungan dan perolehan suara yang mampu menghantarkan anda ke kursi “Panas”, saya sebut kursi panas, karena memang tidak mudah memperoleh kursi tersebut dengan mengerahkan berbagai daya upaya (Modal, Massa, Marketing) sehingga tak jarang banyak yang stress karena gagal meraih kursi panas tersebut.
Buat anda para caleg, perlu mempertimbangkan 5 Modal dasar, Kelima modal dasar itu adalah: Pertama, popularitas (terkait dengan tingkat pengenalan masyarakat terhadap calon). Kedua, elektabilitas (keinginan masyarakat untuk memilih calon). Ketiga, moralitas dan integritas (terkait perilaku dan kejujuran yang ditunjukkan calon). Keempat, dana kampanye (kemampuan keuangan calon untuk memobilisasi dukungan). Kelima, mesin partai politik dan tim sukses caleg (dukungan organisasi untuk memobilisasi dukungan-marketing politik).
Sayang sekali jika anda “mengabsenkan” kelima modal tersebut di atas. Sebagai pemilih, tentu kami akan memilih caleg yg setidaknya memiliki “Moral dan Intergritas” yang teruji.  Tentu kami percaya anda-anda para caleg yang telah direkrut oleh Parpol anda, merupakan orang-orang terpilih dan terbaik, bukan karena sumbangsih (uang) anda kepada parpol dan mengabaikan sistem dan prinsip “Meritokrasi” di Parpol anda, meriktokrasi, yaitu seleksi  yang menekankan pemilihan, perekrutan atau penempatan orang disesuaikan dengan kemampuan, keahliannya, dan profesionalismenya.
Menurut data kompas.com, bila setiap partai politik dari 12 peserta pemilu memaksimalkan pengisian calon anggota DPR di 77 daerah pemilihan, akan ada 6.720 caleg yang berkompetisi menuju Senayan. Bila digabung dengan jumlah caleg DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota, setiap parpol harus menyiapkan sekitar 20.000 caleg. Untuk 12 parpol saja, diperlukan 240.000 orang tokoh untuk menjadi caleg. Sementara KPU menyatakan Pemilu 2014 hanya akan menghasilkan sebanyak 20.257 anggota dewan. Perinciannya, jumlah kursi DPR tetap sama 560 kursi, untuk DPRD Provinsi sebanyak 2.137 kursi atau naik 129 kursi, sedangkan untuk DPRD kabupaten/kota sebanyak 17.560 kursi atau naik 1.215 kursi.
Banyaknya jumlah Bacaleg menuju pemilu 2014 diyakini akan muncul politisi-politisi Instant selain didominasi pula oleh politisi-politisi muka lama. Apakah hasil pemilu 2014 justru akan menimbulkan dan berkontribusi terhadap “Inflasi Politisi”(meminjam istilah Ruslan Ismail Mage)?, semoga saja tidak. Sebagai rakyat pemilih tentu menginginkan Pemilu yang berkualitas dan konstitusional elektoral. 

Rabu, 23 November 2011

Belajar Dari Mahatma Gandhi

Apabila kekerasan dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kebencian dan tidak melahirkan bibit-Bibit permusuhan baru.  Gandhi mengajarkan kita pada pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran(satyagraha). Lebih lanjut, perjuangan itu juga harus berada di jalan yang benar dan bermoral. Gandhi telah mulai merintis perjuangannya sejak di berada di Afrika Selatan. Pada tahun 1893 dimana dia melihat adanya perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat terhadap masyarakat India, serta masyarakat kulit hitam di sana untuk melakukan tindakan non-kooperasi terhadap pemerintah / penguasa Afrika Selatan. 
Gandhi menemukan penindasan tidak hanya pada mereka yang membangkang, namun juga pada yang luka-luka dan meregang nyawa. Dalam catatan hariannya, Gandhi menulis, "Saat itu tak ada orang Eropa yang bersedia membantu membalut luka mereka...Kami harus membersihkan luka-luka orang Zulu yang tidak dirawat setidaknya setelah lima atau enam hari yang lalu, karena itu luka-lukanya membusuk dan sangat menakutkan. Kami menyukai pekerjaan kami."Situasi itu menjadi peletup kesadaran Gandhi bahwa kekerasan tak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Bila mata dibalas dengan mata, semua manusia akan gelap mata. Kesadaran lain yang muncul saat itu adalah bahwa ia harus memberikan pelayanan terhadap semua manusia dengan segenap jiwa raganya.

Kesadaran ini diwujudkan dalam prinsip perjuangan: bramkhacharya (mengendalikan hasrat seksual), satyagraha (kekuatan kebenaran dan cinta), swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri) dan ahimsa (tanpa kekerasan terhadap semua makhluk). Setelah itu, Gandhi terus-menerus melakukan perlawanan kesewenang-wenangan dengan gerakan tanpa kekerasan. Misalnya, Gandhi menolak aturan diskriminatif dengan mogok makan, berjalan kaki bermil-mil, membuat garam sendiri ketika semua rakyat harus membeli garam dari pemerintah Inggris, dan sebagainyaBagi Gandhi, hasrat seksual merupakan sumber dari kejahatan dan cenderung mementingkan diri sendiri, yaitu nafsu, amarah, dan agresi. Hasrat seksual dapat ditaklukkan melalui penolakan terhadap adanya pamrih yang selalu mengikuti perbuatan, untuk itulah ia bertekad menjalani prinsip bramkhacharya. Ketiadaan pamrih dapat dilakukan bila jiwa terikat pada prinsip Kebenaran Ilahiah. Inilah prinsip satyagraha, yaitu kepercayaan bahwa jiwa dapat diselamatkan dari kejahatan dunia, dan juga dapat memberikan pertolongan, sejauh jiwa itu senantiasa berada dalam pencariannya terhadap Tuhan melalui kebenaran dan hanya kebenaran.Swadeshi dapat diartikan dalam beberapa arti yang bermacam-macacm oleh kaum politik India itu sendiri. Ada yang mengartikan sebagai suatu boikot tak mau membeli barang-barang buatan Inggris, yakni sebagi suatu taktik pejuangan menyerang.
Ada pula yang mngartikan sebagai hanya sebagai usaha positif memajukan kerajinan sendiri, pertukangan sendiri, industrialisme sendiri. Ada yang memandangnya sebagai suatau senjata politik, dan ada yang pula yang memandangnya sebagai suatu usaha ekonomi yang bersangkutan dengan politik sama sekali.Sementara itu, ahimsa adalah kekuatan cinta, suatu penghormatan pada semua bentuk kehidupan. Ini adalah ajaran yang dimiliki semua agama, yaitu manusia memiliki kewajiban menghindari kejahatan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik di dunia. Tentang ahimsa Gandhi menyatakan, "Ahimsa...bukan sekadar tingkatan tidak melakukan penyerangan secara negatif tetapi...tingkatan cinta yang positif, berbuat baik bahkan kepada pelaku kejahatan".  Ajaran Gandhi ini didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, kemerdekaan dan kesejahteraan hanya dapat dimulai dari kemandirian individu. Maka masing-masing individu-individu harus mampu menyalurkan hasrat negatifnya pada tindakan-tindakan positif.Kedua, Gandhi meyakini bahwa perkembangan dan kemajuan akan diperoleh tidak melalui konsesi-konsesi dan reformasi-reformasi konstitusional, tetapi melalui perjuangan yang dilakukan oleh rakyat sendiri secara bersama. Untuk dapat membangkitkan kebersamaan itu dibutuhkan kekuatan cinta dan kerelaan untuk mengalami penderitaan rakyat.
Cinta dan penderitaan sesama inilah yang dapat merekatkan perbedaan identitas dalam relasi saling ketergantungan yang dapat menghentikan konflik.Melalui ajarannya itu, sejak tahun 1906, Gandhi terus-menerus berjuang melawan penjajahan dengan cinta dan solidaritas. Sejak tahun itu, Gandhi menyerukan kepada seluruh rakyat India untuk membuat beberapa bentuk kerajinan tangan sehingga tak ada lagi yang akan menjadi beban masyarakat. Gandhi berseru kepada rakyat India untuk menemukan kembali hubungan yang murni dan orisinil antara manusia dengan alam, karena dia yakin bahwa perceraian dengan alam adalah sumber dari segala penyakit.Gandhi berseru agar rakyat mendidik dirinya mengenai dasar-dasar kesehatan dan lingkungan yang sehat, supaya bisa mencegah dan menghentikan bibit-bibit penyakit. Gandhi berseru agar melakukan berbagai aktivitas semacam pemeliharaan hutan dan memelihara lebah, membuat barang pecah belah dan kertas, sehingga tak ada seorang pun yang tidak mempunyai makanan, peralatan atau buku.Gandhi berseru untuk mengembangkan pendidikan dasar melalui program kerja dan belajar di sekolah, sehingga anak-anak tumbuh dengan mengetahui cara membaca, menulis dan bagaimana bekerja dengan tenaga fisik. Gandhi menyerukan kepada rakyat berpartisipasi dalam majelis-majelis desa dan dengan cara ini rakyat dapat belajar memecahkan masalahnya sendiri.Gandhi dengan ajaran anti kekerasan (ahimsa) yang dilakukan untuk kemerdekaan India telah memberi inspirasi kepada seluruh dunia. Dengan ajaran-ajarannya tersebut, hidup sederhana pun ia jalani. Dengan ahimsa perlawanannya cukup memberikan kekuatan kepada rakyat untuk turut serta melawan kekerasan. Ahimsa adalah perjuangan dengan kekuatan cinta dan kasih sayang.
Perjuangan untuk tidak menyakiti baik fisik maupun pikiran sehingga ahimsa bukan semata-mata menyakiti secara fisik. Melainkan perjuangan untuk melawan suatu ketidakbenaran. Ajaran ahimsa yang dianut oleh Gandhi menurut penulis merupakan bentuk representasi dari pengalaman uang diterimanya dalam lingkingan keluarganya, karena sebagaimana yang telah diketahui bahwa Gandhi berasal dari keluarga yang religius yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan rasa cinta kasih terhadap sesame.Ajaran selanjutnya dari Gandhi adalah swadesi atau berusaha untuk mandiri dengan mencukupi kebutuhan diri sendiri. Ini tidak serta merta dilakukan begitu saja, namun harus dibangun sistem untuk menciptakan kekuatan baik pada diri maupun kepada rakyat. Misalnya membangun perekonomian yang menghidupkan kekuatan masyarakat sehingga menghilangkan ketergantungan pada pihak asing. Pendidikan juga memiliki peran penting dalam mewujudkan kemandirian ini, karena disinilah karakter masyarakat dibentuk untuk melakukan pengendalian diri. Bagi penulis, ajaran ini merupakan bentuk kekhawatiran Gandhi terhadap masuknya produk-produk asing ke India sehingga masyarakat India semakin konsumtif untuk itulah kemudian dia mengajak rakyat India agar mau untuk memproduksi barang-barangnya sendiri tanpa harus bergantung terhadap produk asing.Bramkhacharya merupakan salah satu prinsip ajaran Gandhi yang terlihat tidak terlalu menonjol dibanding ajaran-ajarannya yang lain.
Ajaran ini memusatkan diri pada pengendalian hawa nafsu (seksual), dimana dia beranggapan bahwa segala kejahatan di muka bumi ini dapa diredam apabila manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya. Bagi penulis ajaran tersebut cukup baik, namun mematikan hasrat seksual bagi manusia dapat menghancurkan peradaban manusia itu sendiri.Melalui satyagraha, berpegang teguh pada kebenaran yang dibarengi dengan teladan membuat Gandhi diikuti oleh banyak pengikutnya. Apalagi dengan ditambah kejujuran dan kesederhanaan Gandhi. Satyagraha menekankan sebuah perjuangan menentang ketidakadilan melalui kesediaan diri menanggung penderitaan. Beberapa gerakan satyagraha yang dipimpin Gandhi di India adalah berjuang untuk para petani miskin pribumi Champaran, pemogokan buruh pabrik di Ahmedabad dan Kheda, melakukan pembaruan pada Konggres Nasional India dan yang paling fonumental adalah mengubah resolusi penting menuntut status dominian bagi India dibawah pengawasan gerakan Satyagraha di seluruh India di Kalkutta pada Desember 1928.
Gandhi adalah pemimipin yang paling inspirasional pada awal abad 20. Advokasinya tentang aksi ketidakpatuhan warga serta tanpa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk mencapai perubahan sosial yang mempengaruhi pergerakan-pergerakan lain di dunia, seperti perjuanagan Marthin Luther King Jr. di Amerika Serikat yang terinspirasi oleh perjuangannya dalam menuntut persamaan hak dan penghapusan tindakan diskriminasi antara masyarakat kulit putih terhadap masyarakat kulit hitam.Jika ajaran Mahatma Gandhi diikuti, relatif hal itu akan bisa terhindari. Andaikan banyak pihak mau mengikuti gerakan ahimsa (ajaran yang menolak kekerasan), maka korban kemanusiaan tidak akan terjadi. Karena apabila kekerasan dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kebencian dan tidak melahirkan bibit-ninit permusuhan baru.  Gandhi mengajarkan kita pada pentingnya memperjuangkan sesuatu berdasarkan kebenaran (satyagraha). Lebih lanjut, perjuangan itu juga harus berada di jalan yang benar dan bermoral. sumber : http://www.kadnet.org/web/index.php?option=com_content&view=article&id=635:mahatma-gandhi-perjuangan-dan-pemikirannya&catid=37:wawasan-perspective&Itemid=66#josc3732

Rabu, 15 Juni 2011

Membangun Kekuatan Ekonomi Kerakyatan melalui Credit Union

Perkembangan Credit Union/Koperasi Kredit di Indonesia khususnya sudah mulai terlihat di awal Tahun 2000, dimana pada saat itu lah CU/Kopdit  kian mem-Booming, ternyata semangat yang diusung melalui 3 pilar penyangga keberlangsungan Credit Union/Kopdit ini terletak pada Pendidikan, Swadaya, dan Solidaritasnya. Memang apabila dipandang dari sisi bisnis maka core Bisnis CU adalah Simpan Pinjam, akan tetapi bisnis yang didasari atas rasa kesetiakawanan/solidaritas nyata dari setiap anggotanya, bisnis yang didasari HATI, "kamu susah, saya bantu, dan saya susah kamu bantu" demikian slogan yang diusung CU/Kopdit.
Berbeda dengan Koperasi-Koperasi pada umumnya, maka CU/Kopdit adalah model Koperasi Modern, dimana ada banyak manfaat yang diperoleh anggotanya, karena selain Simpan Pinjam, ada pula produk-produk sosial dan pelayanan lainnya, seperti ; Perlindungan Simpanan dan Pinjaman, Solidaritas Kesehatan, Solidaritas Duka.
Konsep membangun ekonomi kerakyatan yang dipraktekan CU/Kopdit adalah konsep yang sungguh-sungguh merupakan pemberdayaan, mengatasi kemiskinan dan problem kesejahteraan bukan semata-mata persoalan ketiadaan UANG, akan tetapi bagaimana masyarakat diajak untuk berdiskusi tentang manfaat UANG dan bagaimana masyarakat mampu merencanakan keuangan secara bijak dan tentunya DISIPLIN MENABUNG.
Program-program pemerintah dalam memberantas kemiskinan belum sepenuhnya Sukses, manakala konsep pemberantasan kemiskinan dilakukan secara INSTAN, contohnya Program SBY dengan BLT nya untuk warga tidak mampu, jelas ini sangat bertentangan dengan semangat PEMBERDAYAAN, meskipun akhirnya BLT dihentikan. sejujurnya bahwa BLT tersebut merupakan program yang hanya akan membuat Masyarakat kian menjadi KETERGANTUNGAN, masyarakat diibaratkan Pengemis yang menunggu-nunggu uluran tangan. Apa yang salah dengan konsep pemberdayaan yang dilakukan pemerintah? menurut saya tidak banyak yang salah, yaitu; Pemerintah menganggap bahwa masyarakat hanya sebagai Objek bukan Subjek, sehingga masyarakat tidak perlu dilibatkan dalam membuat konsep pemberdayaan sejati, sesungguhnya pemberdayaan mengandung nilai powerless to self  Berdaya oleh dirinya sendiri.
Memberikan dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi pengangguran sungguh diluar konsep pemberdayaan, mengatasi problem tingginya angka pengangguran adalah dengan membekali mereka skill kerja melalui balai-balai latihan kerja dan workshop yang diharapkan mampu menciptakan peluang kerja dengan sendirinya. ketiadaan modal yang mungkin selalu jadi masalah bagi mereka yang akan membuka usaha secara mandiri, maka solusinya adalah dengan memberikan Pinjaman Modal Kerja dengan Bunga Murah melalui lembaga perbankan atau pun lembaga keuangan Mikro lainnya seperti Credit Union/Kopdit.

"jika kita cermat, maka kita kan selalu melihat potensi yang tersembunyi dalam diri setiap kita"